Suasana malam yang tenang di Desa Sungai Soriak, Kecamatan Kuantan Hilir Seberang, Kabupaten Kuantan Singingi, mendadak heboh pada Selasa (1/4/2025). Seekor tapir (Tapirus indicus), satwa langka yang dilindungi, tiba-tiba muncul di tengah permukiman warga. Kehadirannya yang tak terduga sontak menarik perhatian masyarakat dan menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah video kemunculannya tersebar luas.
Pejabat Kepala Desa Sungai Soriak, Edison SY, SE, mengungkapkan bahwa tapir tersebut terlihat pertama kali sekitar pukul 20.45 WIB. Dugaan sementara, satwa bercorak hitam putih ini tersesat dari habitat aslinya dan tanpa sengaja memasuki lingkungan penduduk.
“Kemungkinan tapir ini tersesat hingga masuk ke permukiman warga. Kejadian seperti ini sangat langka, terakhir kali ada tapir di desa ini sudah puluhan tahun yang lalu,” ujar Edison, Rabu (2/4/2025) malam kepada media.
Warga yang menyaksikan kemunculan tapir itu mencoba menghalaunya dengan hati-hati agar kembali ke habitatnya. Satwa tersebut sempat berlari menuju pinggir danau sebelum akhirnya masuk ke semak-semak dan menghilang. Menyadari pentingnya perlindungan terhadap hewan langka, Edison mengimbau masyarakat agar tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan tapir tersebut.
“Hewan ini dilindungi, sebaiknya dikembalikan ke habitatnya. Jangan melakukan tindakan yang berlebihan, tetapi tetap waspada,” pesannya.
Meski kejadian ini menarik perhatian luas, pihak desa belum membuat laporan resmi ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Namun, video kemunculan tapir ini sudah disebarluaskan ke pihak kecamatan dan kepolisian setempat.
Indikator Tapir Masuk ke Permukiman
Kemunculan tapir di wilayah pemukiman bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa indikator yang menunjukkan kemungkinan satwa ini memasuki daerah penduduk antara lain:
- Kerusakan Habitat – Alih fungsi lahan dan deforestasi membuat tapir kehilangan tempat tinggalnya, sehingga mencari sumber makanan di sekitar perkampungan.
- Ketersediaan Pangan yang Menipis – Berkurangnya sumber makanan alami seperti dedaunan dan buah-buahan di hutan dapat mendorong tapir mencari alternatif di daerah berpenghuni.
- Gangguan dari Predator atau Manusia – Aktivitas manusia di hutan seperti perburuan liar atau pembangunan infrastruktur dapat membuat tapir terpaksa berpindah tempat.
- Perubahan Iklim – Cuaca ekstrem, kekeringan, atau banjir dapat mengubah pola pergerakan tapir yang bergantung pada lingkungan berair.
- Kesalahan Navigasi – Tapir, meskipun memiliki indra penciuman tajam, bisa tersesat terutama jika wilayah habitatnya mengalami perubahan signifikan.
Mengenal Tapir: Satwa Langka yang Terancam Punah
Tapir Asia (Tapirus indicus) merupakan salah satu dari empat spesies tapir yang tersisa di dunia dan hanya ditemukan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia. Dengan ciri khas tubuh hitam dan putih yang menyerupai panda, tapir sering kali keliru dianggap sebagai kerabat babi atau gajah. Padahal, secara genetika, tapir lebih dekat dengan kuda dan badak.
Sebagai spesies yang dilindungi, tapir memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Satwa ini berperan sebagai penyebar biji-bijian yang membantu pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Sayangnya, perburuan liar dan degradasi habitat menyebabkan populasi tapir semakin berkurang.
Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), tapir termasuk dalam kategori endangered atau terancam punah. Di Indonesia, perlindungan terhadap tapir diatur dalam PP No. 7 Tahun 1999 serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.
Hari Tapir Sedunia: Edukasi dan Konservasi
Sebagai bentuk kepedulian terhadap kelangsungan hidup tapir, setiap tanggal 27 April diperingati sebagai Hari Tapir Sedunia. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konservasi satwa yang semakin langka ini. Berbagai kampanye dilakukan untuk mengedukasi masyarakat tentang tapir, baik mengenai habitatnya, kebiasaannya, hingga ancaman yang dihadapinya.
Pelestarian tapir tidak hanya tanggung jawab pemerintah dan organisasi konservasi, tetapi juga masyarakat luas. Dengan menjaga kelestarian hutan dan tidak memburu satwa ini, kita turut serta dalam upaya menyelamatkan salah satu spesies unik yang menjadi bagian dari kekayaan alam Indonesia.
Kemunculan tapir di Desa Sungai Soriak bukan sekadar kejadian langka, tetapi juga pengingat bahwa keberadaan satwa liar semakin terdesak akibat aktivitas manusia. Kejadian ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga habitat alami tapir agar satwa ini tetap lestari di alam bebas.